Penderitaan yang membangkitkan.
Mengenai pengalaman yang dialami oleh penulis dimana
suatu keadaan dibawah roda, yang sedang berjuang sekerasa-kerasnya tanpa
mengenal waktu, tenaga, dan pikiran. Adalah disaat penulis menghadapi Ujian
Nasional dan saat ingin menghadapi SNMPTN, SBMPTN, dan UM demi mendapatkan
perguruan tinggi yang diidamkan.
Saat mulai menduduki kelas 12 SMA Semester Ganjil, sudah
banyak huru-hara mengenai UN, SNMPT, SBMPTN. Dimana semua pelajar dipaksa mau
tidak mau harus belajar dan berusaha yang keras untuk menghadapi semua Test
tersebut, termasuk penulis.
Impian mendapatkan perguruan tinggi yang baik dan
diimpikan haruslah bermodalkan usaha yang keras, mutlak bagi semua pelajar
ingin mendapatkan PTN. Betapa tidak? Karena fasilitas terjamin dan biaya
pendidikan yang terjangkau tapi tetap bermutu tinggi.
Guru mengajar mulai semester ganjil dengan target
muridnya mendapatkan PTN, dan murid mulai semester ganjil harus mencapai target
yang ditentukan demi impian yang ingin terwujudkan.
Dapat dikatakan inilah fase penderitaan atau fase pahit.
Dimana kita berusaha semaksimal mungkin dan tidak tahu dengan hasil yang akan
kita peroleh nanti. Belajar dikejar-kejar oleh waktu, belajar yang memang harus
digeber agar bisa lulus dan dapat
PTN. Pahit sekali rasanya, disaat waktu bermain berkurang, waktu bersama
keluarga dan teman berkurang. Waktu santai yang sangat menipis, belum lagi
harus dibarengi dengan tugas yang “WAW” begitu banyaknya.
Disinilah kita dilatih mental, kesiapan semua pelajar
apakah kita dapat bertempur dimedan perang yang kita tidak tahu medannya
seperti apa.
Waktupun terus berlanjut hingga tiba di semester genap,
dimana kian hari waktu semakin menipis dan waktu belajar yang kurang kondusif
dikarenakan pelajar tidak hanya fokus kepada materi UN saja namun terhadap
materi yang lain juga.
Kini tibalah saat penulis dan pelajar lainnya mencapai
titik pertengahan, dan berada dalam medan perang UN. Apakah nasib membawa kita
ketitik bawah atau ketitik atas? Jawabannya bisa djawab setelah kita melewati
semua rasa pahit rasa penderitaan demi mendapatkan kebahagiaan yakni lulus UN
dan mendapatkan PTN.
Waktupun cepat berlalu, dimana sambil menunggu keputusan
hasil UN semua juga menunggu untuk hasil PTN apakah lulus UN dan PTN.
Pengumuman pun tiba, semua rasa pahit dapat dikurangi
karena penulis lulus ujian dengan hasil yang lumayan tidak bagus tapi disinilah
titik kebahagiaannya. Disaat penulis sudah berusaha sepahit mungkin dan
mengerjakan UN dengan hasil sendiri namun hasilnya berbeda dengan perkiraan
disinilah batin kita berperan, menderita namun bahagia walaupun tidak
mendapatkan PTN juga.
Namun penulis berusaha untuk bangkit, tidak ada kata
terlambat, tidak ada putus asa, pikiran untuk bangkit ini ada. Penulis yakin
dengan kuliah di PTS dan mendapatkan IP yang bagus serta lulus dari perguruan
tinggi dengan hasil terbaik, ini adalah fase kebangkitan dan kebahagiaan yang
tidak tergantikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar