Minggu, 12 Oktober 2014

Penderitaan yang Membangkitkan


Penderitaan yang membangkitkan.

            Mengenai pengalaman yang dialami oleh penulis dimana suatu keadaan dibawah roda, yang sedang berjuang sekerasa-kerasnya tanpa mengenal waktu, tenaga, dan pikiran. Adalah disaat penulis menghadapi Ujian Nasional dan saat ingin menghadapi SNMPTN, SBMPTN, dan UM demi mendapatkan perguruan tinggi yang diidamkan.
            Saat mulai menduduki kelas 12 SMA Semester Ganjil, sudah banyak huru-hara mengenai UN, SNMPT, SBMPTN. Dimana semua pelajar dipaksa mau tidak mau harus belajar dan berusaha yang keras untuk menghadapi semua Test tersebut, termasuk penulis.
            Impian mendapatkan perguruan tinggi yang baik dan diimpikan haruslah bermodalkan usaha yang keras, mutlak bagi semua pelajar ingin mendapatkan PTN. Betapa tidak? Karena fasilitas terjamin dan biaya pendidikan yang terjangkau tapi tetap bermutu tinggi.
            Guru mengajar mulai semester ganjil dengan target muridnya mendapatkan PTN, dan murid mulai semester ganjil harus mencapai target yang ditentukan demi impian yang ingin terwujudkan.
            Dapat dikatakan inilah fase penderitaan atau fase pahit. Dimana kita berusaha semaksimal mungkin dan tidak tahu dengan hasil yang akan kita peroleh nanti. Belajar dikejar-kejar oleh waktu, belajar yang memang harus digeber agar bisa lulus dan dapat PTN. Pahit sekali rasanya, disaat waktu bermain berkurang, waktu bersama keluarga dan teman berkurang. Waktu santai yang sangat menipis, belum lagi harus dibarengi dengan tugas yang “WAW” begitu banyaknya.
            Disinilah kita dilatih mental, kesiapan semua pelajar apakah kita dapat bertempur dimedan perang yang kita tidak tahu medannya seperti apa.
            Waktupun terus berlanjut hingga tiba di semester genap, dimana kian hari waktu semakin menipis dan waktu belajar yang kurang kondusif dikarenakan pelajar tidak hanya fokus kepada materi UN saja namun terhadap materi yang lain juga.
            Kini tibalah saat penulis dan pelajar lainnya mencapai titik pertengahan, dan berada dalam medan perang UN. Apakah nasib membawa kita ketitik bawah atau ketitik atas? Jawabannya bisa djawab setelah kita melewati semua rasa pahit rasa penderitaan demi mendapatkan kebahagiaan yakni lulus UN dan mendapatkan PTN.
            Waktupun cepat berlalu, dimana sambil menunggu keputusan hasil UN semua juga menunggu untuk hasil PTN apakah lulus UN dan PTN.
            Pengumuman pun tiba, semua rasa pahit dapat dikurangi karena penulis lulus ujian dengan hasil yang lumayan tidak bagus tapi disinilah titik kebahagiaannya. Disaat penulis sudah berusaha sepahit mungkin dan mengerjakan UN dengan hasil sendiri namun hasilnya berbeda dengan perkiraan disinilah batin kita berperan, menderita namun bahagia walaupun tidak mendapatkan PTN juga.
            Namun penulis berusaha untuk bangkit, tidak ada kata terlambat, tidak ada putus asa, pikiran untuk bangkit ini ada. Penulis yakin dengan kuliah di PTS dan mendapatkan IP yang bagus serta lulus dari perguruan tinggi dengan hasil terbaik, ini adalah fase kebangkitan dan kebahagiaan yang tidak tergantikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar