Pengalaman
Diri dengan Budaya
Pengalaman yang pernah saya alami tentang budaya ini
berawal semenjak saya menempuh jenjang pendidikan di Madrasah Aliyah. Sama
halnya dengan sekolah-sekolah pada umumnya yang memiliki Visi dan Misi serta
peraturan yang banyak sekali mulai dari A sampai Z.
Menurut makalah yang saya buat, budaya dan manusia saling
bergantungan. Begitu pula dengan budaya di sekolah, pasti budaya dibuat karna
ada manusia yang membuatnya. Peraturan-peraturan yang dibuat di sekolah yaitu
mengacu pada budaya kita disekolah. Seperti contoh dilarang terlambat sekolah,
dilarang merokok, dilarang ini itu banyak sekali yang larangannya dan
peraturannya.
Semua murid di sekolah pasti takut akan hukuman karena
telah melanggar oleh karena itu seluruh murid berupaya mentaati peraturan dan
beradaptasi dengan peraturan yang telah dibuat. Inilah budaya yang mengharuskan
kita mengontrol Id kita agar hidup kita khususnya di sekolah.
“Bila
kita berlaku positif mendapat penghargaan, bila kita berlaku negatif
mendapatkan sanksi”.
Namun sering sekali peraturan itu pula dilanggar, tidak
hanya oleh siswa namun kepada atasan pun peraturan tersebut kerap dilangar.
Padahal kebudayaan itu bersifat “TURUN-TEMURUN”.
Pertanyaannya adalah kalau sikap kebudayaan dilanggar
dari leluhur kita atau pemimpin atau atasan kita bagaimana keudayaan tersebut
bisa meluas ataupun menurun kepada murid di sekolah?
Inilah dilema, dijabarkan bahwa kebudayaan dibuat karena
keinginan dan keinginan tersebut tidak jauh setelah budaya (peraturan) tersebut
telah dibuat. Pada kenyataannya si-pembuatnya lah yang menghancurkan budaya itu
sendiri.
Bagaimana bisa kita sebagai murid menjalankan budaya
tidak terlambat, budaya kebersihan itu sebagian dari iman, merokok
menghancurkan diri sendiri dan orang lain? Padahal leluhur kita atau pemimpin
kita tidak mencontohkan kepada murid-muridnya. Merokok di sekolah dan terlihat
murid, datang terlambat terlihat murid.
Seharusnya bawahan itu bagaimana pemimpinnya, bukan? Ya
apabila bawahan yang salah maka yang pertama kali disalahkan adalah pemimpinnya
atau atasannya. Ingatkah peribahasa ini?
“Guru
kencing berdiri, murid kencing berlari”
Ya benar, apapun yang dilakukan atasan biasanya akan
dicontoh oleh bawahannya. Dan sayangnya kebiasaan orang-orang pribumi mencontoh perilaku yang buruk-buruknya saja,
jarang sekali mencontoh hal yang baiknya. Lalu terciptalah budaya yang
non-positif, inilah budaya yang dihasilkan dan selalu turun-temurun!
Menurut pendapat saya, bukan budaya yang salah namun
manusianyalah yang bersalah. Seharusnya diawali dengan peningkatan mutu pola
pikir manusia barulah membuat atau mengembangkan budaya yang positif dijalankan
dan diterima oleh semua masyarakat sekolah. Dan bagi yang melanggar “HARUS!”
mendapatkan sanksi yang sesuai, baik kepada Kepala Sekolah dan jajarannya,
maupun muridnya agar kedua kubu ini mendapatkan suatu ketegasan dalam
berbudaya, khususnya dalam hal mentaati peraturan sekolah yang telah dibuat.
Jangan sampai menjadikan kebudayaan suatu hal yang
disepelekan dan didiskriminasikan. Dan jika disepelekan dan didiskriminasikan
timbulah dilema dan konflik baru yakni…
“HUKUM
ITU TUMPUL KEATAS, DAN TAJAM KEBAWAH”
Sekian pengalaman yang dapat saya sampaikan, kurang
lebihnya mohon maaf karena
“Tak ada gading yang tak retak”
Wassalamu’alaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar