Jumat, 26 September 2014

Pengalaman Budaya (INDONESIA)

Pengalaman Diri dengan Budaya


Pengalaman yang pernah saya alami tentang budaya ini berawal semenjak saya menempuh jenjang pendidikan di Madrasah Aliyah. Sama halnya dengan sekolah-sekolah pada umumnya yang memiliki Visi dan Misi serta peraturan yang banyak sekali mulai dari A sampai Z.
Menurut makalah yang saya buat, budaya dan manusia saling bergantungan. Begitu pula dengan budaya di sekolah, pasti budaya dibuat karna ada manusia yang membuatnya. Peraturan-peraturan yang dibuat di sekolah yaitu mengacu pada budaya kita disekolah. Seperti contoh dilarang terlambat sekolah, dilarang merokok, dilarang ini itu banyak sekali yang larangannya dan peraturannya.





Semua murid di sekolah pasti takut akan hukuman karena telah melanggar oleh karena itu seluruh murid berupaya mentaati peraturan dan beradaptasi dengan peraturan yang telah dibuat. Inilah budaya yang mengharuskan kita mengontrol Id kita agar hidup kita khususnya di sekolah.
“Bila kita berlaku positif mendapat penghargaan, bila kita berlaku negatif mendapatkan sanksi”.
Namun sering sekali peraturan itu pula dilanggar, tidak hanya oleh siswa namun kepada atasan pun peraturan tersebut kerap dilangar. Padahal kebudayaan itu bersifat “TURUN-TEMURUN”.
Pertanyaannya adalah kalau sikap kebudayaan dilanggar dari leluhur kita atau pemimpin atau atasan kita bagaimana keudayaan tersebut bisa meluas ataupun menurun kepada murid di sekolah?
Inilah dilema, dijabarkan bahwa kebudayaan dibuat karena keinginan dan keinginan tersebut tidak jauh setelah budaya (peraturan) tersebut telah dibuat. Pada kenyataannya si-pembuatnya lah yang menghancurkan budaya itu sendiri.
Bagaimana bisa kita sebagai murid menjalankan budaya tidak terlambat, budaya kebersihan itu sebagian dari iman, merokok menghancurkan diri sendiri dan orang lain? Padahal leluhur kita atau pemimpin kita tidak mencontohkan kepada murid-muridnya. Merokok di sekolah dan terlihat murid, datang terlambat terlihat murid.
Seharusnya bawahan itu bagaimana pemimpinnya, bukan? Ya apabila bawahan yang salah maka yang pertama kali disalahkan adalah pemimpinnya atau atasannya. Ingatkah peribahasa ini?
“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”
Ya benar, apapun yang dilakukan atasan biasanya akan dicontoh oleh bawahannya. Dan sayangnya kebiasaan orang-orang pribumi mencontoh perilaku yang buruk-buruknya saja, jarang sekali mencontoh hal yang baiknya. Lalu terciptalah budaya yang non-positif, inilah budaya yang dihasilkan dan selalu turun-temurun!
Menurut pendapat saya, bukan budaya yang salah namun manusianyalah yang bersalah. Seharusnya diawali dengan peningkatan mutu pola pikir manusia barulah membuat atau mengembangkan budaya yang positif dijalankan dan diterima oleh semua masyarakat sekolah. Dan bagi yang melanggar “HARUS!” mendapatkan sanksi yang sesuai, baik kepada Kepala Sekolah dan jajarannya, maupun muridnya agar kedua kubu ini mendapatkan suatu ketegasan dalam berbudaya, khususnya dalam hal mentaati peraturan sekolah yang telah dibuat.
Jangan sampai menjadikan kebudayaan suatu hal yang disepelekan dan didiskriminasikan. Dan jika disepelekan dan didiskriminasikan timbulah dilema dan konflik baru yakni…

“HUKUM ITU TUMPUL KEATAS, DAN TAJAM KEBAWAH”

Sekian pengalaman yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf karena
“Tak ada gading yang tak retak”
Wassalamu’alaikum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar