Rabu, 14 Oktober 2015

Artikel Individu, Keluarga dan Masyarakat (Contoh Kasus + Solusi)


KPAI: Kekerasan Anak Masih Tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –
            Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan peringatan Hari Anak Nasioanal tahun ini, masih diwarnai dengan tingginya kasus kekerasan terhadap anak. Ia mengungkapkan, penanganan dan perlindungan anak dari tahun ke tahun juga semakin kompleks.
            Ia menguraikan dari sembilan klaster pengaduan KPAI, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) menempati posisi tertinggi. Hingga April 2105, terdapat sekitar 6006 kasus tersebut. Keseluruhan jumlah tersebut, meliputi berbagai bidang, yaknni pengasuhan, pendidikan, kesehatan, cybercrime atau pornografi.

"Kasus pengasuhan menjadi masalah serius seiring dengan meningkatnya konflik rumah tangga yang berujung pada perceraian dan rebutan kuasa asuh. Akibatnya anak menjadi korban, baik rebutan kuasa asuh, penelantaran, hingga kekerasan," jelasnya melalui keterangan persnya, Kamis (23/7).
            Tidak berhenti di sana, tren pengaduan terhadap kasus-kasus tersebut juga semakin meningkat tahunnya. "Ini menunjukan belum optimalnya negara hadir menjamin perlindungan anak," ujar Asrorun. Ia mengimbau pemerintah harus secara total hadri dan memperhatikan perlindungan anak.
            Penegakkan hukum terhadap pelaku pelanggaran dan kekerasan juga harus tegas, agar kejadian serupa tidak terulang di waktu mendatang.
            Asrorun juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kepedulian dan menumpahkan cinta kasihnya kepada anak. Hal itu bertujuan agar tidak ada lagi anak-anak di Indonesia yang tidak ceria. Terlebih, hari ini merupakan peringatan Hari Anak Nasional.



1.                 Analisa
            Penyebab dari banyaknya kekerasan yang terjadi pada anak-anak, rata-rata dikarenakan keretakan dalam keluarga. Ayah dan Ibu yang bercerai menyebabkan anak terlantar, menyebabkan anak menjadi frustasi, menyebabkan perebutan hak asus anak yang akhirnya berujung pada psikologis orangtuanya dan menjadikan pelampiasan psikologisnya kepada kekerasan anak.
            Kemudian kasus pada yang terjadi pada anak-anak sampai April tahun 2015 tercatat sudah mencapai 6006 kasus yang meliputi pengasuhan, pendidikan, kesehatan, cybercrime atau pornografi. Sungguh ini merupakan keadaan yang sangat memprihatinkan, kebobrokan yang terjadi pada anak-anak sangatlah serius, semua itu terjadi dari permasalahan yang multi dimensial seperti ekonomi, akidah agama, pendidikan dirumah, keadaan didalam keluarga, lingkungan bermain dll.

2.                 Solusi
            Seharusnya orangtua mengikuti kegiatan agama yang dilakukan secara rutin, pendidikan psikologis karena akan membantu dalam membentuk keluarga yang baik. Orangtua lah yang paling berpengaruh dalam pendidikan agama untuk keluarga, orangtua lah yang seharusnya paling mengamati perkembangan anaknya dan keluarganya. Keharmonisan dalam keluarga lah yang harus dicapai agar terhindarnya kekerasan yang marak terjadi pada anak-anak.
            Pemerintah juga harus mengambil sikap tegap dan tegas dalam menangani permasalahan yang terjadi pada anak, pendidikan yang mumpuni dari pemerintah sangat di perlukan, tidak hanya berorientasi pada keilmuan saja tapi dalam psikologis (mental) sangat perlu di didik misal dalam sekolah atau seminar-seminar. Seharusnya pemerintah juga memberi sanksi tegas bagi orangtua yang melakukan kejahatan pada anak. Intinya apabila agamanya tegak insyaAllah tercipta keluarga yang harmonis.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar